Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kerja Unit Pengerolan Besi

Keywords

kelelahan kerja
tenaga kerja

How to Cite

Amalia, I., & Widajati, N. (2019). Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kerja Unit Pengerolan Besi. Journal of Health Science and Prevention, 17-26. https://doi.org/10.29080/jhsp.v3i1.147

Abstract

Kelelahan kerja adalah suatu kondisi tubuh sedang mengalami penurunan secara fisik atau psikis. Kelelahan kerja dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kinerja dan memicu terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik individu, beban kerja fisik dan iklim kerja dengan kelelahan kerja. Metode penelitian ini adalah penelitian analitik yang bersifat observasional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh tenaga kerja shift pagi unit pengerolan besi PT X. Sampel penelitian ini sejumlah 40 tenaga kerja, dengan menggunakan teknik sampling simple random sampling. Teknik analisa data menggunakan uji spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kelelahan kerja dengan P=0,0030. Terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan kelelahan kerja dengan P=0,008. Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja dengan P=0,001. Terdapat hubungan yang signifikan antara iklim kerja dengan kelelahan kerja dengan P=0,002. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik individu (usia dan masa kerja), beban kerja fisik dan iklim kerja dengan kelelahan kerja.

https://doi.org/10.29080/jhsp.v3i1.147

References

Setyawati, L. (2010). Selintas Tentang Kelelahan Kerja. Yogyakarta: Amara Books.

Tarwaka. (2013). Ergonomi Industri. Surakarta: Harapan Press.

Handayani, S. (2005). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Waktu Reaksi Rangsang Cahaya pada Tenaga Kerja yang Terpapar Panas di PT. Baja Kurnia Ceper Klaten. 4 No 1.

Japriska, L. M. (2014). Analisis Pengaruh Beban Kerja, Lingkungan Kerja dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Pesisir Selatan dengan Menggunakan Partial Least Square (PLS). Vol 3 No 1.

Suma'mur. (2009). Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta: Sagung Seto.

Standar Nasional Indonesia (SNI) 7269:2009 mengenai Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori Menurut Pengeluaran Energi. 2009.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.

Benedictus S. Lampus, D. R. (2016). Hubungan Antara Beban Kerja dengan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kerja di PT. Timur Laut Jaya Manado. vol 5 no 2, 144-150.

Putri, D. P. (2008). Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Pekerja Terhadap Kelelahan (Fatigue) pada Operator Alat Besar PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya.

Daru Lestantyo, J. I. (2014). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Konveksi Bagian Penjahitan di CV. Aneka Garment Gunungpati Semarang. Vol 2 No 2, 119-126.

Nugraheni, A. B. (2015). Hubungan Antara Beban Kerja Fisik dengan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kerja Bagian Produksi Tulangan Beton di PT Wijaya Karya Beton Tbk. PPB Majalengka.

Kuswana, W. S. (2016). Ergonomi dan Kesehatan Keselamatan Kerja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

M, S. (2008). Higiene Industri. Jakarta: Balai FK Universitas Indonesia.

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Downloads

Download data is not yet available.